Penyakit paru merupakan salah satu masalah kesehatan bagi bangsa Indonesia saat ini. Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga (SKRT) yang diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan, sekitar 30-40 persen penyakit dan penyebab kematian di Indonesia adalah penyakit paru dengan berbagai bentuknya. Buku SEAMIC Health Statistic 2002 menunjukan bahwa setidaknya tiga penyakit paru merupakan bagian dari 10 penyebab kematian utama di Indonesia, yakni pneumonia, tuberkolosis (TB), dan bagian dari neoplasma ganas.

Menurut dokter Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Tjandra Yoga Aditama, Indonesia adalah penyumbang kasus TB terbesar ketiga di dunia setelah India dan Cina. Tahun 2003 dilaporkan jumlah kasus (prevalensi) TB dengan basil tahan asam (BTA) di India sebesar 1.761.000 orang, Cina 1.459.000 orang, dan Indonesia 557.000 orang. Asma bronchial merupakan 10 besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia. Itu tergambar dari SKRT di berbagai provinsi di Indonesia.

Sedangkan dalam hal konsumsi rokok yang jelas sangat mempengaruhi kesehatan paru, menurut Tjandra, Indonesia menduduki peringkat kelima negara dengan konsumsi rokok terbesar di dunia. ”Cina mengonsumsi 1.643 miliar batang rokok per tahun, Amerika Serikat 451 miliar batang, Jepang 328 miliar batang, Rusia 258 miliar batang, dan Indonesia di peringkat kelima dengan 215 miliar batang rokok per tahun,” kata Tjandra pada kaleidoskop kesehatan dalam rangka dies natalis FK UI ke-55, di Jakarta, pekan lalu.

Tjandra mengungkapkan, prevalensi merokok penduduk dewasa di Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas meningkat dari 26,9 persen pada 1995 menjadi 31,5 persen pada 2001. Ini disebabkan oleh peningkatan prevalensi merokok yang TB. Masalah TB di Indonesia dipersulit lagi oleh infeksi HIV/AIDS yang menurunkan daya tubuh dan terjadinya infeksi ganda (multidrug resistant) yang sulit diobati.

Pada abad 21 ini, kata Tjandra, Indonesia masih menghadapi enam tantangan sehingga penyakit TB masih sulit dikendalikan. Di antaranya, penemuan penderita, ketidakmampuan petugas kesehatan untuk menjamin semua pasien dapat menyelesaikan pengobatannya, tidak tersedianya vaksin yang ampuh, menimpa laki-laki dari 53,4 persen menjadi 62,2 persen, sedangkan pada perempuan tidak ada perubahan yang berarti.

”Data WHO menyebutkan bahwa 59 persen laki-laki dan 3,7 persen perempuan di Indonesia adalah perokok. Secara keseluruhan pada 2001 sebanyak 31,5 persen penduduk Indonesia merokok. Artinya, di negara kita ada sekitar 60 jutaan orang perokok,” paparnya. Disisi lain, papar Tjandra, Jakarta dilaporkan sebagai kota terpolusi udara ketiga terburuk di dunia. Ini tentu akan berdampak pada kesehatan paru dan pernafasan warganya. Sementara itu, kebakaran hutan setiap tahun selalu menjadi isu penting bagi kesehatan masyarakat kita.

Masalah kesehatan paru, lanjutnya, merupakan masalah kesehatan penting di dunia. Dewasa ini sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi TB. Ada sekitar selapan juta penderita baru TB di seluruh dunia per tahun dan hampir tiga juta meninggal akibat TB setiap tahun. Artinya, setiap detik akan ada satu orang yang terinfeksi TB dan setiap 10 detik akan ada satu orang yang meninggal karena penyakit ini.

Untuk itu, katanya, perlu dilakukan penanggulangan masalah rokok secara menyeluruh, termasuk oleh Indonesia. Secara umum ada 10 kegiatan yang perlu dilakukan, yaitu penanganan iklan, peringatan di bungkus rokok, tingginya cukai rokok, perlindungan perokok pasif, penyuluhan kesehatan, penanggulangan rokok pada anak dan remaja, aspek hukum penelitian, dana dan pengorganisasian.

”Di sisi lain, senjata utama yang dapat kita gunakan untuk menangani masalah kesehatan paru dan pernafasan ini adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dasar evidence based medicine harus menjadi pola pikir dalam penanganan penyakit ini,” tegas Tjandra.